Setidak
cintanya kamu kepada dia,
lambat laun kamu akan terbiasa karena hadirnya.
Dan akan kesibukan mencari ketika dia hilang.
Sedang aku disini,
secintanya aku kepada kamu,
lambat laun akan terbiasa tenang dengan ketiadaanmu bersamanya.
Terlalu jauh kamu pergi, terlalu sulit membawa kamu pulang.
Ini bukan jatahku, masa-ku sudah habis.
Inilah saat dimana aku harus menghentikan segala mimpi yang pernah aku rakit— mimpi yang perlahan mulai mengirisku dengan lembutnya.
lambat laun kamu akan terbiasa karena hadirnya.
Dan akan kesibukan mencari ketika dia hilang.
Sedang aku disini,
secintanya aku kepada kamu,
lambat laun akan terbiasa tenang dengan ketiadaanmu bersamanya.
Terlalu jauh kamu pergi, terlalu sulit membawa kamu pulang.
Ini bukan jatahku, masa-ku sudah habis.
Inilah saat dimana aku harus menghentikan segala mimpi yang pernah aku rakit— mimpi yang perlahan mulai mengirisku dengan lembutnya.
Sudah seharusnya aku mundur, sejak dulu...
Sudah seharusnya aku terbangun,
aku terlalu lama tertidur bersama bayang-bayang tubuhmu…
Dibuai dan diselimuti mimpi yang selalu menjadi tanda tanya: akankah aku beserta mimpiku dapat berlabuh di dermaga impiannya— Kamu.
Sudah seharusnya aku terbangun,
aku terlalu lama tertidur bersama bayang-bayang tubuhmu…
Dibuai dan diselimuti mimpi yang selalu menjadi tanda tanya: akankah aku beserta mimpiku dapat berlabuh di dermaga impiannya— Kamu.
Sudah cukup saling menyakitinya...
Inilah kenyataan, bahwa aku dan kamu tidak akan pernah bisa menciptakan 'kita'
Pergilah....
Kejar dia yang akan menjadi sesuatu nyata yang kokoh dikemudian hari.
Bisa-tidaknya aku...
Itu rahasia.
Tapi aku percaya... Jalan itu berakar
Selalu ada cara untuk kembali pulang.
Nanti, entah kapan.
Kau akan segera kembali.
Untukku.
Dan aku percaya, bahwa hati ini benar.
Bandung, 9 Oktober 2012.
Tertanda: Bumiana.