Jumat, 02 Agustus 2013

Gantungan Biru.

Ini adalah #CeritaDariKamar pertamaku di hari ketiga yang aku tulis di hari kedua. Telat memang... Tapi aku harap Bang Bara masih sudi berkunjung walau hanya sekedar 'lewat' :p hihi. Selamat membaca :)

Malam ini sejujurnya mataku sudah berkeluh lelah. Ia ingin segera dipejam, namun aku tahan-sebentar untuk sekedar bercerita sedikit tentang sebuah gantungan dibalik pintu.

Doc: 2013

Ada apa dengan gantungan?
Tampak, tidak ada yang spesial bukan dari gantungan pada gambar tersebut? Bahkan pengait tengahnya pun sudah copot.
Tapi menurutku gantungan ini spesial. Dia punya kenangan karena pernah ditumpangi sebuah jaket baseball berwarna cokelat. Dan pemilik jaket tersebut tentunya orang yang paling aku sayang —pada waktu dulu.
Selama hampir seminggu lebih, jaket itu selalu menggantung apik diatas gantungan biru. Sekelebat wangi aroma parfume-nya yang hampir menghilang masih bisa melayang-layang di atmosfer kamar. Membuat aku semakin merindukan pemiliknya.

Terkadang ketika aku sedang menunggu terpejam. Aku selalu memperhatikan jaket yang menggantung diatas gantungan biru, lalu mengkhayalkan bahwa aku sedang dijaga hingga diawasi oleh pemiliknya melalui wujud sebuah jaket. Seperti orang gila memang, tapi aku senang melakukannya. Dengan cara bodoh itu, biasanya sedikit rindu bisa terobati.

Ah... Terkadang aku iri kepada gantungan biru. Ia selalu bisa berdekapan dengan jaket cokelat tanpa batas atau waktu yang menghalangi mereka. Andai aku dan dia seperti itu juga... Sudahlah.

Pernah suatu ketika, badanku kehilangan suhu stabilnya dan disaat yang bersamaan aku ingin wujudnya hadir lalu menemaniku hingga aku pulih. Namun ya... Sesuatu yang tidak mungkin untuk seorang dia yang selalu sibuk. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah benda diatas gantungan biru, aku perhatikan... Lalu aku tersenyum tipis.
Kamu tahu? Ternyata gantungan biru mempersilahkanku untuk melepaskan jaket baseball dari cantelannya. Untuk aku pakai hingga keadaanku membaik. Namun setelahnya, gantungan biru ingin segera jaket itu kembali untuk dikaitkan. Deal?
Selain senang karena telah 'diberi pinjam' aku pun berharap bisa mendapatkan kekuatan dari jaket tersebut. —lalu ku pakai, dan rasanya... Sehangat telapak tangannya, yang jari-jarinya selalu menyelip secara menyelinap diatas punggung tanganku.

* * *

Dan, tibalah saat dimana jaket cokelat itu harus berpamitan dengan gantungan biru. Saatnya pulang, kembali pada pemiliknya. Dengan berat hati, aku lepaskan jaket itu dari gantungan biru. Dalam hati aku berlirih: maafkan aku gantungan biru, kali ini kamu akan benar-benar kehilangannya, dan kamu takkan pernah mendapatkan Ia kembali.
Bukan gantungan biru saja yang akan mengalami kesedihan jangka panjang karena rindu dan kehilangan. Aku pun merasakan kesakitan yang sama, bahkan lebih sakit. Tak apa, setidaknya aku sedikit senang, bisa mengenalkan benda yang aku kagumi pada sebuah benda di dalam kamarku.
Terimakasih gantungan biru, telah sudi menopang kenangan jaket baseball cokelat hingga detik ini.




"Terkadang, aku merasakan gantungan biru itu merindukan bahkan mencari-cari jaket yang pernah mengait pada cantelannya."

Rabu, 10 Juli 2013

Persimpangan.

Setidak cintanya kamu kepada dia, 
lambat laun kamu akan terbiasa karena hadirnya.
 
Dan akan kesibukan mencari ketika dia hilang.
 
Sedang aku disini,
 
secintanya aku kepada kamu,
 
lambat laun akan terbiasa tenang dengan ketiadaanmu bersamanya.
 

Terlalu jauh kamu pergi, terlalu sulit membawa kamu pulang.
 
Ini bukan jatahku, masa-ku sudah habis.
Inilah saat dimana aku harus menghentikan segala mimpi yang pernah aku rakit— mimpi yang perlahan mulai mengirisku dengan lembutnya.
 
Sudah seharusnya aku mundur, sejak dulu...
Sudah seharusnya aku terbangun,
 
aku terlalu lama tertidur bersama bayang-bayang tubuhmu…
 
Dibuai dan diselimuti mimpi yang selalu menjadi tanda tanya: akankah aku beserta mimpiku dapat berlabuh di
 dermaga impiannya— Kamu.

Sudah cukup saling menyakitinya...
 
Inilah kenyataan, bahwa aku dan kamu tidak akan pernah bisa menciptakan 'kita'
 
Pergilah....
 
Kejar dia yang akan menjadi sesuatu nyata yang kokoh dikemudian hari.
Bisa-tidaknya aku...
 
Itu rahasia.
Tapi aku percaya... Jalan itu berakar 
Selalu ada cara untuk kembali pulang.
Nanti, entah kapan.
Kau akan segera kembali. 
Untukku.
Dan aku percaya, bahwa hati ini benar.




Bandung, 9 Oktober 2012.
Tertanda: Bumiana.